Apa Itu Piston Oversize dan Bagaimana Membaca Ukurannya?
Pengertian piston oversize, cara membaca penandanya, kenapa silinder harus dikerjakan mengikuti ukuran piston, dan contohnya di bengkel korter dan honing.
Piston oversize adalah piston yang diameternya sengaja dibuat lebih besar dari ukuran standar (STD). Piston ini dipakai ketika lubang silinder sudah diperbesar lewat proses korter, misalnya karena aus, oval, tirus, atau tergores dalam. Piston standar akan terlalu kecil untuk lubang yang sudah dikorter, sehingga celahnya berlebihan dan mesin boros oli atau bertenaga lemah.
Cara membaca ukurannya
Ukuran oversize biasanya disebut dengan istilah OS diikuti tingkatannya, misalnya "OS pertama", "OS kedua", dan seterusnya. Tingkatan ini adalah kelipatan tambahan diameter yang ditetapkan pabrikan untuk masing-masing jenis mesin. Besarnya berbeda antarmesin, jadi jangan menghafal satu angka untuk semua mesin. Rujuk manual servis atau katalog suku cadang mesin yang dikerjakan.
Penanda ukuran umumnya tercetak atau terstempel di mahkota piston, atau tertulis di kemasan. Gunakan penanda itu sebagai petunjuk awal saja. Ukur diameter piston yang akan dipasang dengan mikrometer pada titik ukur yang ditetapkan manual servis, lalu jadikan hasil ukur itu acuan pengerjaan silinder.
Kenapa penting
Lubang silinder harus dikerjakan mengikuti piston, bukan sebaliknya. Ukuran akhir silinder adalah diameter piston ditambah celah (clearance) sesuai manual servis. Bila piston salah ukur atau penandanya salah dibaca:
- celah terlalu besar, sehingga mesin berisik dan boros oli,
- celah terlalu kecil, sehingga piston bisa macet atau menggores dinding silinder saat panas.
Piston oversize juga punya batas. Setiap blok hanya bisa dikorter sampai tingkat tertentu, karena dinding silinder harus tetap cukup tebal. Bila sudah mentok di oversize terakhir, pilihannya biasanya memasang sleeve (liner) baru, bukan korter lagi.
Contoh di bengkel
Sebuah blok diukur dengan bore gauge dan ternyata silindernya sudah melewati batas keausan. Mekanik lalu:
- mencari tahu dari manual servis tingkat oversize yang tersedia untuk mesin itu,
- memesan piston pada tingkat yang sesuai dengan hasil ukur,
- mengukur diameter piston yang datang dengan mikrometer,
- mengorter silinder dengan menyisakan allowance untuk honing,
- menghoning sampai diameter piston ditambah celah yang dianjurkan.
Karena itu, urutan kerja yang benar adalah ukur piston dulu, baru kerjakan silinder. Urutan sebaliknya berisiko membuat silinder terlanjur dikorter pada ukuran yang tidak cocok dengan piston yang tersedia.
Kesalahan yang sering terjadi
- Percaya penanda tanpa mengukur. Penanda bisa keliru atau tertukar antar-piston dalam satu set.
- Menyamakan semua silinder. Satu blok bisa saja mengalami keausan yang berbeda di tiap silinder, jadi ukur masing-masing.
- Mengorter terlalu jauh. Dinding yang terlalu tipis berisiko bocor atau retak.
Untuk pembahasan urutan korter dan honing, baca Korter vs Honing: Beda Proses, Fungsi, dan Urutan Pengerjaannya. Cara memeriksa keausan silinder dijelaskan di Cara Membaca Bore Gauge untuk Mengukur Keausan Silinder.
Penutup
Bengkel yang rutin menangani pekerjaan oversize bisa memakai mesin korter untuk memperbesar silinder ke ukuran oversize dan mesin honing untuk finishing-nya. Keduanya dirancang dan dirakit Mikron di Bekasi.